Senin, 09 November 2009

Luka Kecil Itu...


“Kalau urusan menjaga fisiknya saja bisa kami lalaikan, maka bagaimana lagi dengan menjaga jiwanya”

***

Lengan kiri anakku terluka. Entah siapa yang telah ceroboh sehingga ada garis sepanjang kurang lebih tiga sentimeter mengoyak kulit lengannya yang halus itu. Ketika kutanyakan kepada istri, ia hanya bisa menggeleng.

“Mungkin kalau bukan Mamak (mertua saya) ya Peni (ipar saya), mas”, ujarnya menginvestigasi.

“Bisa jadi”, jawabku singkat.

Sebenarnya, perhatianku tidak tertuju pada siapa yang salah dan sebagainya. Bisa saja dua orang yang disebut istriku tadi pelakunya, dan bisa juga orang lain. Itu pun belum tentu pelakunya mengetahui bahwa akibat kecerobohan kecilnya itu, lengan mungil putriku yang cantik telah terluka dibuatnya.

“Pantesan tadi siang Azka nangis terus, mas”, kata istriku untuk merinci suasana.

“Oh, begitu..”, sahutku enggan memberi detail pada penderitaan yang dirasakan anakku.

Tapi bukan itu yang ingin ku tumpahkan dalam tulisan ini. Bukan.

Tadi sore, ketika luka itu diketahui olehku, sontak jiwaku langsung berguncang hebat. Ada sesak yang menyeruak di dalam dada. Ada kesedihan yang begitu mendalam karenanya. Kesedihan yang tak mampu kulukiskan, bahkan dengan sejuta kata.

“Ummu Azka”, ucapku memecah keheningan. Ia pun menoleh.

“Kalau luka kecil ini saja bisa membuat dadaku sesak, jiwaku terguncang, dan perasaan bersalah begitu menghantui diri ini, bagaimanakah perasaan para orangtua yang kehormatan anak gadisnya telah direnggut dengan cara-cara yang keji ya? Apa hati mereka nggak sakit? Apa mereka nggak marah sama pelakunya itu?”, tanyaku retoris sambil mengingatkannya tentang beberapa kejadian buruk yang menimpa sebagian kawan wanitanya.

“Iya ya mas”, jawabnya singkat.

Okelah, Anda bisa berkomentar bahwa saya terlalu berlebihan ketika menyikapi “hal kecil” ini. Tapi tidak! Ini bukan perkara kecil. Ini adalah miniatur dari perkara besar yang hendak Allah tunjukkan kepada kami, sehubungan dengan tanggungjawab kami sebagai orangtuanya. Ini berkaitan dengan tanggungjawab kami dalam mengemban amanah bernama ‘Anak’ yang kami begitu cintai dan sayangi. Yang dengan cinta itu kami rela untuk mengorbankan apa yang kami punya, dan apa yang kami rasa demi kebahagiaannya.

Karena, kalau urusan menjaga fisiknya saja bisa kami lalaikan, maka bagaimana lagi dengan menjaga jiwanya? Bagaimana dengan iman dan kehormatannya? Bagaimana dengan kesucian dirinya? Perkara-perkara yang begitu kuat ingin kami jaga dan bina itu apakah bisa kami melakukannya?

“Robbana…” hanya kalimat itu yang bisa kulafadzkan ditengah gemuruh yang membadai di dalam dada ini. Berikan kami kekuatan untuk melindungi anak-anak kami ya Allah… [wahidnugroho.blogspot.com]



Ruang PDI
Oktober 2009

Padam



Listrik boleh padam, cucian di kamar mandi boleh menumpuk, agenda boleh berantakan, pakaian boleh belum disetrika, tapi jangan sampe semangat kita redup karenanya. Okelah, silakan PLN disalahkan karena dibilang nggak becus kerjanya, bolehlah Pemda dikritik sana-sini karena terkesan cuek-bebek, nggak masalah kalo masyarakat pada demo dan mogok bayar rekening listrik, biarkan saja, itu hak mereka untuk menilainya. Hanya saja, jangan sampai itu semua kita jadikan alasan untuk mandek berkontribusi positif bagi bangsa ini.

Jangan sampai, waktu kita hilang untuk mencaci sana-sini, jangan sampai usia kita habis untuk kritik ini dan kritik itu, jangan sampai kesempatan yang ada melayang karena kita sibuk mengisinya dengan kesia-siaan. Hayoh, bulatkan tekad, kuatkan semangat, lipatgandakan ikhtiar, perteguh kepasrahan kepadaNya, dan jadikan hidup kita lebih bermakna dengan memanfaatkan sekecil apapun kesempatan yang ada, sesingkat apapun waktu yang tersedia, dan pendek apapun jalan yang terbentang. Karena Rasulullah saja pernah menyuruh kita untuk menanam benih, meski besok kiamat tiba, apalagi kalo sekedar pemadaman listrik!

So, there’s no more reason for us to stop struggling! No more reason for us hangin on the sadness! Keep fight for your life, coz there would’nt be no second chance for us!

Oke. On your mark! Get Set! Go!



Baron, November 2009
Hari (yang katanya) Pahlawan

Senin, 16 Maret 2009

Ngeblog Lagi



Hehh,,, dah lama nggak ngeblog. Jaringan idup-mati, kompi dan kantor pun ganti-ganti, dan masih ditambah dengan mood menulis masih pulang pergi, lengkaplah sudah, blog ini hanya jadi semacam penambah benwit blogspot aja :p. Tapi, yah, biar udah nulis sebanyak gambreng (berapa itu?) tapi kalo nggak didokumentasikan di blog keknya masih kurang ngresep. Serasa ada yang kurang, gitu. Lagian, banyak juga fans-fans saya (heleh) yang merasakan kejemuan hidup gara-gara dah lama nggak mbaca tulisan saya (narsismode:on), he8x...

September. Itu kurleb udah hampir setengah tahun yang lalu sejak tulisan saya yang terakhir di blog ini. Fiuhh,,, rasa-rasanya waktu ini berjalan semakin cepat dan tak dirasa saja. Dan tak terasa pula, sebentar lagi saya, insya Allah, akan menjadi seorang ayah. Hmmm....

Dan jadilah blog ini seperti ini. Setelah diacak-adut sedemikian rupa dan dipoles sana-sini. Bosen ah item-iteman terus. Pengen yang fresh dan nggak nyepetin (boso opo iki?) mata yang mbaca, jadinya warnanya semakin nggak jelas begini.

'Ala kulli haal, selamat datang (lagi) buat saya sendiri.


Baron, Maret 2009

Minggu, 28 September 2008

Suami Bagi Anak Perempuanku (Kelak)



Walid bin Abdul Malik. Siapa sih yang nggak kenal dengan pemuda ini? Keren, kaya, pintar, dan berkedudukan tinggi di masyarakat. Bapaknya adalah Abdul Malik bin Marwan, salah seorang khalifah Bani Umayyah pada masa itu. Secara garis keturunan pun, Walid termasuk dalam trah ningrat di tanah Arab. Intinya, secara keseluruhan, tidak ada satu pun cela yang melekat pada diri pemuda ini. Kalo kata grup band Andra and The Backbone, Walid adalah sesuatu yang, bisa dikatakan, ”sempurna...” (pake gayanya Dedi si vokalis Andra and The Backbone)

Akan tetapi, apa gerangan yang membuat seorang lelaki bernama Sa’id ibn Musayyab rahimahullah menolak Pangeran Walid sebagai calon suami dari anak perempuannya yang cantik itu? Dan yang lebih mengejutkan lagi, Sa’id justru lebih memilih Abu Wada’an yang notabene adalah seorang lelaki yang miskin dan berasal dari golongan masyarakat papa.

Ternyata, Sa’id sang ulama Madinah tidak tergoda dengan harta dunia. Ia lebih memilih muridnya yang miskin tapi memiliki pemahaman agama yang baik ketimbang sang pangeran yang kaya.

Namun sekarang, prinsip yang dimiliki Sa’id ibn Musayyab ini tampaknya belum familiar di masyarakat kita yang masih cenderung materialis. Dengan dalih kehormatan keluarga, mereka seolah menolak lelaki baik-baik yang hendak meminang anaknya dan lebih memasang kriteria kekayaan. Padahal dengan begitu, mereka (para orangtua itu) telah menjerumuskan mereka ke dalam kawah kebinasaan.

Saya jadi ingat dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi yang berbunyi seperti ini:

“Jika datang kepada kalian (hai calon mertua) orang yang kalian sukai (ketaatan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Sebab, jika kamu sekalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah (bencana) dan akan berkembang kehancuran yang besar di muka bumi.”

Kemudian ada yang bertanya,

“Wahai Rasulullah, bagaimana jika orang (pemuda) itu mempunyai (cacat atau kekurangan-kekurangan)?”

Maka, Rasulullah Saw. menjawab, (mengulangnya tiga kali)

“Jika datang kepada kalian orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu)!”

So, syarat pemahaman agama adalah sebuah prinsip yang harus diambil oleh para orangtua dalam menikahkan anak perempuannya, dan sebaliknya.

Alhamdulillah, saya termasuk yang dimudahkan Allah dalam hal ini. Waktu hendak menikah dengan wanita yang sekarang telah menjadi istri saya sekarang, saya tidak dibebani apapun oleh calon mertua saya (mertuaku baek banget lo..^^). Asalkan mampu bertanggungjawab sudah cukup, begitu katanya. Meskipun apa yang dikatakan oleh mertua saya itu mendapat tantangan yang cukup keras, terutama dari keluarga besar suaminya, tapi mertua saya itu tetap kukuh (tentunya setelah diprovokasi oleh saya, he8x,,, :p). Tapi, yah, demi menghormati keluarga besar mereka, saya pun akhirnya harus mengikhlaskan sekian lembar uang saya untuk diserahkan kepada istri saya sebagai uang maharnya. Ndak papa lah, sekian ditukar sekian. Karena kalau saya pikir-pikir juga, apalah arti uang segitu dibanding keberkahan dunia dan akhirat saya (cie,,,).

Ah, saya pun juga ingin meniru Ibnul Musayyab, begitu juga mertua saya, dan orangtua-orangtua lainnya yang memberikan kemudahan kepada cowok-cowok sholeh untuk meminang anak-anak perempuan mereka. Semoga kelak ketika Allah mengamanahi saya seorang anak perempuan yang cantik (seperti ibunya ^^), Allah pun berkenan untuk melapangkan dada ini untuk memudahkan setiap lelaki beriman nan baik akhlaqnya untuk meminang anak saya itu menjadi istri bagi dunia dan akhiratnya. Amin. Karena saya nggak mau kalau keluarga saya ditimpa bencana karena silaunya saya terhadap harta dunia.

Kapan ya...?


Kambar, Agustus 2008

Sabtu, 27 September 2008

Dapet Kenalan Baru

Siang tadi saya baru aja dapet telpon dari seseorang yang baru saya kenal. Rusdin namanya. Dia ini ternyata temen SMPnya istriku. Dari suaranya yang mirip sama suaranya si Farid al Jomblowi (**sori brur^^v), saya dan dia langsung ngobrol dengan akrabnya. Persis banget kayak temen lama yang udah tahunan nggak ketemu.

Setelah ngobrol sana-sini, tahulah saya kalau anak muda yang satu ini adalah seorang penulis buku. Itu pun saya tahu dari istri saya, dan setelah membuka blognya di sini. Hmm, menarik juga. Padahal usianya lebih muda dari saya, tapi untuk urusan karya, saya memang harus belajar banyak dari ikhwan yang satu ini. Di usianya yang sedemikian muda, dia telah menerbitkan banyak sekali buku. Malahan, doi juga pernah nampang di salah satu majalah islam yang terkenal bernama Sabili. SBGTL. Subhanallah Banget Gitu loh. Ehem, tapi afwan ya bro, saya belum baca satu pun buku antum. Maklum, nggak gaul nih. He8x,,

Memang, perkara usia bukanlah parameter yang shahih untuk mengukur tingkat kematangan seseorang. Kita ingat dengan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu. Seorang sahabat Rasulullah yang ketika mudanya telah menjadi mufassir yang handal. Bahkan boleh dikatakan, Ibnu Abbas ra ini adalah penghulu dari para mufassir yang ada di lembaran sejarah islam yang gemilang. Kita juga ingat dengan Asy-Syahid Imam Hasan Al Banna yang ketika mudanya diisi dengan kerja-kerja positif. Padahal semasanya, banyak anak-anak muda yang jauh dari jalan kebenaran, dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu mudanya dengan kesia-siaan. Saya kira, kisah-kisah tentang pemuda-pemuda luar biasa ini telah banyak berserak di kehidupan kita.

Kembali ke teman baru saya yang satu ini, saya hanya bisa mengucap Alhamdulillah, segala puji bagiNya, yang telah mempertemukan saya dengannya. Semoga, dari silaturahim ini, saya bisa menimba banyak manfaat darinya. Bukankah jika kita bergaul dengan penjual minyak wangi maka kita akan tertular dengan wanginya? Begitu sabda Rasulullah saw.

Ah, saya bahagia sekali jika tahu bahwa ada anak muda yang berprestasi seperti teman saya ini. Dan gara-gara peristiwa ini, entah kenapa, semangat saya jadi menyala kembali. Semoga tetap demikian adanya sampai esok dan selamanya kelak. Amin.


Kambar, September 08
Salam kenal bro ^^